Human Being - Interaksi

May 16, 2018

Saya selalu suka mengamati keramaian. Di sana banyak pelajaran hidup. Ada yang bikin gemas, cemas, kesal, marah, hingga berprasangka, haha. 
 
Pernah menemui seorang yang di lingkungan tertentu ia berbeda karakternya?
 
Saya ambil contoh seorang X di linkungan luar dan lingkungan rumah. Di luar, ketika bersosialisasi dengan teman maupun awam, X adalah pribadi yang menyenangkan, ramah, berempati, disenangi banyak orang. Berbalik ketika di rumah, ia menjadi penyangkal, pemberontak, apa yang tidak sesuai dengannya, diamarahkan. Apakah suasana rumah menjadi penyebab? Mungkin salah satunya.
 
Benar, suasana rumah yang kurang terorganisir kesimpulannya. Diakuinya, X nggak bisa mengontrol karakter rumahannya, meski sebetulnya ia menyadari kegilaannya itu. Seperti terbawa arus suasana katanya. Capek, imbuhnya.
 
Dari sini, siapa yang patut disalahkan? Kalau katamu si X yang membuat suasana tersebut, saya menyangkal. Karena apapun hasil karakter seseorang, terlebih seorang yang masih tinggal dengan orang tua, mencerminkan didikan orang tua tersebut.
 
Contoh kegaduhan klise versi saya, (mohon maaf tidak ada maksud apapun)
- anak disuruh ibunya melakukan/membeli sesuatu, si anak tidak mau, ibu malah mencaci
+ hey, Mum, kenapa harus mencaci kalau menasehatiku kemudian membimbingku agar tidak mengulanginya sangat bisa kau lakukan? You never learn me about

- anak melakukan hobby produktifnya, meminta fasilitas kepada orang tua, tidak didukung, terlebih melarang karena alasan yang ditutup-tutupi
+ saya melakukan hal yang saya senangi, saya sedang mencari passion saya, kalau memang kau belum sanggup memenuhinya sekarang, atau ini tak baik untukku, katakan mengapa, aku pasti lebih memaklumi ketimbang lantas kau abaikan perkembanganku

- anak sering menangis dan menyangkal perkataan orang tua, anak yang disalahkan, dituduh tidak berbakti
+ saya mudah menangis karena terlalu lama memendam amarahmu, saya sering menyangkal karena sulit percaya kebohonganmu, sedari dulu saya menyaksikan kesedihan saya sendiri hingga harus saya tampakkan waktu remaja
 
___
 
Masih banyak lagi kisah pahit di sana. So, whats my point?
Dari ketiga contoh di atas, solusinya adalah interaksi. Di organisasi manapun, sekolah, kelas, kelompok, hingga keluarga, interaksi masih menjadi peringkat pertama yang terpenting. Tanpa interaksi yang baik, beberapa hal akan terlewat, akibatnya merubah apa-apa yang harusnya tidak terjadi.
 
Saat bukan di lingkungan kita pun berinteraksi dengan awam, berkenalan, meminta maaf, menanyakan sesuatu, hingga menolong. Dengan alam pun kita berinteraksi. Dengan Tuhan pun. 
 
Ternyata, interaksi menghasilkan kedamaian. Apapun itu.

0 comments

Other Posts

Instagram