Dalam Perjalanan

February 22, 2018

Beberapa bulan terakhir ini saya dibuat mikir oleh keadaan. Meski sebetulnya saya belum tahu harus menunjuk siapa, si keadaan atau si what-i've-done, ataukah keduanya saja, atau yang ketiganya atau empat?

Rasanya, itu menggiring saya untuk makin terhanyut dalam keintrovertan. Ibarat keong kecil sembunyi yang iya saja dibawa ombak. Pokoknya saya mengiyakan. Tapi saya anggap sedang dalam perjalanan menuju laut tenang, yang dalamnya kamu enggak bisa ngukur. Sebut saja kedewasaan.

Di saat mereka masih suka bercandaan, saya juga. Yang beda, saya bisa tiba-tiba dingin. Bukan lantas enggak peduli, cuma enggak tertarik, bahkan sama sekali. Biasanya terpikir sudah enggak lucu, basi untuk suapan joke saya, jadi buang waktu, enggak penting.

Bicara waktu, orang Indonesia yang katanya suka ngaret, saya pun di dalamnya. Makin sekarang, saya makin mencintai waktu. Saya ingin saling menghargai antar saya dan waktu. Jangan ada keegoisan di antara kami, biar kami damai.

Kalau kamu teman kos saya, mungkin akan jengkel setiap pagi. Saya yang enggak mau telat, seringkali menggopohi kamu-kamu yang masih sedang bersiap. Kalau benar, yang kamu rasakan itu akibat kamu sendiri yang menunda kesempatan waktu yang banyak sebelumnya. Apa lagi kalau waktu bel masuk kurang lima menit saja, saya tega berangkat duluan dari yang masih bersiap. Saya rasa, enggak perlu mengorbankan diri demi yang enggak menghargai.

Kalau kamu teman kos saya, akan jengkel lagi ketika bingung akan beli makan apa, saya malah jawab pokonya yang cepat. Lha, yang dimau makanan sesuai mood, kok. Masalahnya, pernyataan bingung tersebut dilontarkan waktu berada di tempat yang sudah biasanya, kantin sekolah, atau daerah rumah kos. Makanan yang kamu mau itu cuma buat memenuhi kebutuhan, yang kalau enggak terpenuhi akan lapar. Bagi saya, pernyataan bingung di keadaan seperti itu cuma buang waktu. Kalau sudah gitu, biasanya saya menyindir kamu, kan. Ha ha. Beda lagi ketika sedang di tempat lain atau sekadar pengin makan untuk memenuhi keinginan.

Ternyata saya mengakui kalau ini jahat. Banyak yang tersakiti dengan saya yang dingin kalau sudah enggak suka. Tapi harus kamu tahu, kalau saya dingin berarti sedang proses menjauhkan kekesalan saja. Sebentar lagi juga akan ajak kamu ngobrol lagi. Oh, kalau kamu masih rasa dingin, berarti jauh-jauh dulu saja sana.

Saya yang jahat ini, masih yang suka kekanak-kanakan. Juga enggak suka dengan orang yang dingin. Kalau saya di hadapannya, saya akan pergi sampai ada penghangatnya, entah apa. Kalau enggak, bisa sakit batin. Enggak mau.

Jadi, selesai baca ini saya mau kamu mengerti. Biar aku juga ngerti. Atau kamu mengerti saat aku sudah. Karena aku jarang kali ngomong kalau sebenarnya ngerti.

2 comments

Other Posts

Instagram