Terjebak TB

January 07, 2018

"Jika kamu malas memasukkan makananmu ke mulut, maka kamu akan mati kelaparan."
Kalimat yang cukup oke kalau saya buat untuk menambah energi motivasi mencapai sesuatu. Terimakasih untuk siapapun yang pertamakali membuat itu.

Saya ini seorang siswa. Saya ini masih belajar. Saya ini masih beradaptasi dengan kamu-kamu yang banyak itu, dengan guru-guru, dengan lain-lain yang ada di sekolah, termasuk stop kontak yang kadang enggak mengalir arusnya.

Kamu-kamu itu juga siswa. Sekelas denganku. Tapi sayangnya enggak sebangku, bahkan jauh. Yes, untung saja.

Pengin saya marah, saya teriak, saya berkata, bertingkah kasar, bertingkah menurut kemauan saya seperti yang sudah sering saya bayangkan ketika lihat ada seorang atau semua kamu di situ. Tapi, sial, lagi-lagi saya harus menahan ego yang akan memarah.

Boleh enggak, saya bilang kamu egois, kamu egois, kamu egois. Iya, sengaja diulang tiga kali, karena teruntuk kamu yang tiga.

Saya ini satu di antara tiga bajingan. Saya panggil kamu Bajingan jangan marah, ya. Karena saya nyaman. Jangan mengganggu kenyamananku. Awas, Kamu.

Berbulan-bulan saya kunjungi laman konten terkait mengatasi bandelnya kamu kamu kamu. Eh, tapi kamu itu bukan hanya bandel. Nakal iya, egois iya, malas iya, enggak resolutif iya, enggak tergetif iya. Dan goblok. Saya masih nggak yakin kalau ada orang goblok. Tapi saya pengin bilang kamu goblok. Rasanya kata buruk lainnya sudah terwakili.

Eh, goblok atau banjingan, ya. Keduanya enggak ada salahnya, sih.

Maaf, ini saya yang sakit jiwa. Tapi kamu lebih sakit jiwa. Merasa oke saja lihat saya membawa beban-beban kamu. Untungnya saya masih punya hati yang fungsional. Sekuat hati.

Ya, enggak apa-apa, hati kamu biar dibungkus terus saja. Kalau dijual ambil saja harga tinggi.

Kamu-kamu yang lain. Yang sedang senang setiap harinya. Mari kita doa.

0 comments

Other Posts

Instagram