Jangan Disia

April 23, 2015

Teriknya matahari pukul 12 siang. Ah, seperti biasa, di kota metropolitan seperti ini. Kaus tipis dibalut keringat juga tak jadi masalah. Bahkan bak rutinitas. Lumayan sejuk dengan satu-dua pohon kecil. Bagiku.

Layaknya warga perumahan sederhana, yang sekelilingnya hening. Ogah saling sapa. Saling kenalpun mager rasanya. Mungkin yang telah tinggal lebih dulu, akan terbiasa. Seperti aku. Iya. Mungkin untukku, yang dapat kuanggap teman main, hanya 'seekor dua ekor' anak. Anak-anak kecil.
Itu dulu. Sekarang, masih. Tapi bedanya, ada yang tak bisa kulepas dari ingatan soal kenangan menonton kisah serumah tetangga dekat rumah. Kisah apa? Kisah tetanggaku!

Tertancap mantap di benakku kalimat-kalimat utama dari curhatan salah seorang anak tetangga. Tetangga paling terkenal memang. Keburukannya. Maaf, bukan seluruh keluarganya yang buruk. Melainkan si bapak yang boleh disebut tak bertanggungjawab itu. Bagaimana durhakanya anak yang menyebut seorang bapak begitu, namun apa daya, memang begitu adanya. Tapi, mengerti apa anak usia 6 tahun? Setiap kali si anak meminta uang saku kepada bapak untuk membeli sebungkus jajan di toko kecil depan rumahpun, beliau berkata dengan gampangnya, "tak punya", malah mencari kebahagiaannya. Sungguh tak sesekali dipikirkan nasib keluarganya.
Jika dibandingkan dengan dulu, memang keluarga itu hidup dalam kesejahteraan dan selalu dicemburukan warga. Namun apalah daya mereka setelah si bapak ditimpa PHK di tiap kantornya. Entah apa yang telah dibuat. Koprol mungkin.

Dan lagi-lagi, lagi, dan lagi, apa yang dapat diserap si anak saat memikirkan sikap si bapak. Mengerti apa si anak? Tentu tak dapat banyak ide bagus yang dapat dilakukannya. Meski menurutnya sangat tepat.
Hingga suatu saat si anak tak tahan ketika melihat teman-temannya yang beramai-ramai membeli beberapa jajan di toko depan rumahnya,  si anak ingin sekali bisa membeli beberapa jajan seperti mereka. Sedangkan kepada siapa ia bisa meminta uang selain kepada si bapak yang tak punya uang sekepingpun. Si anak terus memandang teman-temannya itu melalui jendela rumahnya.
Tiba-tiba ide khas anak-anaknya bermunculan. Lalu diambilnya beberapa bungkus permen buah yang memang biasa disediakan di meja tamu rumahnya. Niatnya bulat, menukarkan beberapa bungkus permen itu untuk mendapatkan sebungkus jajan saja di toko tersebut.
"Tante.... Beli....." Panggilannya kepada pemilik toko dengan nada cempreng khas anak 6 tahun.
 Tante yang sedang mencuci piring menjawab sembari menampakkan wajah dari dapur.
"Iya, mau beli apa, dik?"
Dengan niat bulatnya, tanpa sedikitpun rasa ragu, si anak dengan riangnya menjawab
 "Te, tante, aku mau beli ini tapi tuker pake permenku ini, te." Sembari memegang sebuah bungkus jajan yang digantung rapih dan menunjukkan segenggam permen di tangan kanannya.
"Apa itu? Ya gak boleh! Harus pake uang!" Sedikit bingung, tante menjawab dengan ciri khas sewotnya.
Si anakpun sontak tersentuh jiwanya, meneteslah air matanya, diam, kemudian berlari ke rumahnya. Rasa kecewa itu pasti sangat dirasakannya. Terlebih tak ada siapapun yang dapat membelanya. Siapa yang tak sakit hati jika dibentak. Ya, memang si anak salah. Lagi-lagi, apa yang dapat dipahami seorang anak. Apa pula yang dapat dimengerti si bapaknya itu tentang anaknya. Benar-benar sudah gila. Semenjak itu, aku tak mengerti kabar mereka. Yang ku tahu, hampir setiap hari terdengan suara tak enak didengar dan teriak tangis si anak dari dalam rumahnya. Tiada yang tahu. Kelak si anak akan menjadi seorang yang sukses dari pengalaman keterpurukannya dimasa itu. Semoga.

1 comments

  1. kata-katanya bagus, jadi enak bacanya juga, menarik

    ReplyDelete

Other Posts

Instagram