Bayangkan, Rasakan

April 27, 2014

sudah dua malam ini ku pikirkan sebuah rangkaian kalimat yang indah dan halus untuk menasehatinya, secara tak melukai perasaan sekaligus hatinya. tentang sebuah hal yang mungkin dia sadari, tapi dianggap biasa. iya, tapi hina di mata orang lain. kenapa? karena ku tahu dia tak pantas seperti ini dalam jangka waktu sekian lama merusak harga dirinya. karna aku menyayanginya. sungguh.

hai, mungkin kamu tak pernah tahu ada apa dibalik cerita rumit ini. antara aku, dirinya, dan sekian masyarakat yang berperan sebagai hakim, penusuk, teroris, pengacara, pengadu, dan segala yang belum paham kehidupan kita, aku dan dia. mereka hanya sok tahu.

sebenarnya aku pun belum menemukan jenis cerita apa yang kujalani dengannya. menyenangkan sekali. seperti berlari di dunia fantasi, apa yang ku inginkan, disitu ku dapatkan bersamanya. selalu bersamanya. tak perduli susah senangnya, tak perduli lelah letihnya, tak perduli bagaimana keadaannya. menyenangkan bukan? meski tak jarang keegoisan yang menjarakkan kita. menjadi musuh dalam kisah indah. yah, santai saja, selalu ada yang mengalah. begitu caraku belajar bagaimana indahnya hidup. hidup dalam kekerasan memang jauh lebih indah. kamu bisa rasakan bagaimana susah, tahan banting, tahan gengsi, bahkan dikucilkanpun kau bisa diam dan tiba-tiba membuktikan bahwa kau lebih bersinar. bisakah kamu? mungkin tak banyak, aku yakin.

usai sepercik cerita suka dengannya. ku ingin berbagai tentang rasaku malam ini. rasa yang sudah ku tahan, sudah pula ku luapkan padanya. tapi ya begitu, hidupnya membuatnya tenggelam dalam keegoisan. dia tak mau mendengar apa kata orang. hanya rayuan yang dapat ia turuti. sebenarnya sangat picik ku melihatnya. selalu ku ingin kuteriakkan tepat didepan wajah pucatnya itu, ku sertai derasan air mataku dan telapak tanganku yang menggeggam erat lengan atasnya. aku tak tahan melihat penderitaannya dibalik kesenangan yang bejat itu. karna ku ikut merasakannya. batinku tlah menjadi satu dengannya.

saat dimana ku pada titik kesabaranku. berhari-hari ku lewati hari bersamanya. bersuka menghirup udara sekaligus polusi kotor kota ini. ketika dia berbicara menghadapku, disitulah ku batin, "ayolah, ungkapkan! aku ingin dia mengerti betapa ku ingin kamu lebih baik! ayolah beranikan diri!". hash! hanya sekedar batin. nyaliku tak cukup tuk mengungkapkannya. ku hanya bisa menempatkan jari-jariku disela jari-jarinya dan menatap hangat matanya. seolah mataku bersama tanganku yang semakin erat yang mengungkapkan. hanya satu alasanku. aku takut membuatnya lebih terluka karnaku. aku takut dia tak menerima perkataanku yang mungkin akan dibuang jauh-jauh olehnya. karna ku tahu selama ini dia telah mennghabiskan air matanya yang berarti demi aku. demi membelaku. demi membela dirinya yang dia anggap lebih benar ketimbang nasehatku. ya begitulah, aku sudah tau, pasti dia nggap nasehatku sebagai 'apaa-apaan! aku sudah mengerti! aku tak bermaksud begitu!'. atau memang aku yang menganggapnya terlalu buruk. entah. aku belum paham.

kalimat indah untuknya selalu terselip dalam do'aku. sudah, ini yang bisa ku lakukan. mendoakannya dalam diam. mengiyakan segala kemauannya. mengiyakan segala janjinya. meski terselip nasehat yang entah dikemanakan olehnya. Tuhan mengerti apa maksud semua ini.

0 comments

Other Posts

Instagram